Mentari yang Hilang, Kini Aku Merindukan Hangatnya

Mentari yang Hilang, Kini Aku Merindukan Hangatnya
Oleh: Ardilah Aquariani
Mentari yang semula redup kini benar-benar menghilang. Awalnya langit tampak pucat, awan menggantung rendah, seolah menahan sesuatu yang tak sanggup diucapkan.
Di ufuk timur, mentari tak muncul seperti biasanya. Hanya cahaya samar yang berusaha menembus kabut, namun gagal memberi hangat pada bumi yang menunggu.
Kian hari, mentari itu datang sesuka hati. Aku pun merasa duniaku berubah—tak lagi sehangat dulu.
Hidup terasa sesak meski oksigen masih berlimpah.
Harapanku tak sebesar dahulu, mimpi-mimpiku terhapus, padahal untuk tidur saja aku belum sempat.
Hidupku terasa berantakan, padahal merancangnya pun masih jauh dari bayangan. Seperti ada yang hilang sejak mentari itu mulai meredup.
Aku mulai menyadari, ternyata mentariku telah bersinar di wilayah lain.
Cahayanya terbagi, tak lagi menemani kehidupanku dari pagi hingga sore seperti dulu.
Kebencianku pun mulai tumbuh. Aku meyakinkan diri bahwa aku bisa hidup tanpa kehadiran mentari itu lagi. Meski berat, akan kujalani hidup tanpa berharap ia kembali.
Namun ternyata aku salah.
Kebencianku yang begitu besar membuatku tak mampu berpikir jernih. Egoku terlalu tinggi, tak mau mengerti. Dulu aku membencinya mati-matian, kini aku merindukannya setengah mati.
Tahukah kamu siapa mentari yang kumaksud itu?
Ya… dialah papaku.
Orang yang sangat aku cintai, namun pernah aku benci hanya karena ia membagi cahayanya di wilayah lain. Kini aku menyesal. Aku terlambat menyadari bahwa tak seharusnya aku membencinya.
Ilmu agamaku yang belum cukup, kesabaranku yang setipis tisu, membuatku tak mampu menerima takdir yang Allah rancang untukku. Padahal Allah telah menetapkan garis kehidupan kita jauh sebelum kita dilahirkan ke bumi.
Inilah beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan bahwa segala sesuatu—bahkan daun yang jatuh—telah ditetapkan Allah dan tercatat di Lauhul Mahfuz, di antaranya:
Al-Qur’an Surat Al-An‘am (6) Ayat 59: “Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
Ayat ini menegaskan bahwa bahkan jatuhnya sehelai daun pun tidak luput dari pengetahuan Allah dan semuanya telah tercatat. Surat Al-Hadid (57) Ayat 22:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”*
Ayat-ayat ini menekankan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi tanpa ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah. Semua sudah tertulis sebelum terjadi.
Inilah hakikat iman kepada takdir (qadar):
bahwa segala sesuatu—besar maupun kecil—berada dalam kehendak Allah, termasuk jatuhnya sehelai daun.
Seandainya waktu dapat diputar, banyak hal yang ingin kuperbaiki, termasuk belajar memahami dan memaafkan. Sebab ditinggalkan saat hati belum mampu memaafkan, rasanya jauh lebih menyakitkan.
Waktu terus berjalan, namun rasa sakit dan penyesalan memilih tetap tinggal. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa kehilangan itu tak pernah benar-benar hilang.
Kini, bukan hanya hangatnya yang aku butuhkan—aku sungguh merindukan kehadiran mentari itu setiap hari.
Papa, maafkan aku yang terlambat memahamimu.
Maafkan aku yang sempat membencimu begitu dalam tanpa mau mendengar penjelasanmu, tanpa berusaha mengerti keinginanmu.
Kini mentari itu telah tertidur.
Cahayanya tak akan lagi menyinari hari-hariku. Dan aku… sungguh merindukannya.



