PENDIDIKAN

Teknologi Kompos-Char tingkatkan efisiensi fosfor rawa lebak di Banyuasin

Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas IBA Palembang mengembangkan inovasi pupuk “Kompos-Char” sebagai solusi teknologi untuk mengatasi rendahnya efisiensi pemanfaatan unsur hara fosfor pada lahan pertanian rawa lebak di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

 

Ketua Tim PKM Universitas IBA Dr. Ir. Nurul Husna di Palembang, mengatakan bahwa karakteristik tanah masam pada lahan rawa lebak selama ini membuat pupuk fosfor (P) yang diberikan petani mudah terikat oleh kandungan besi dan aluminium sehingga sulit diserap oleh tanaman.

 

“Kompos-Char kami kembangkan sebagai teknologi yang memanfaatkan potensi lokal untuk membantu meningkatkan efisiensi pemanfaatan fosfor sekaligus memperbaiki kesuburan tanah,” Ujar Nuril Husna pada Senin 20 Juni 2026.

 

Nurul menjelaskan bahwa formula Kompos-Char dirancang secara ilmiah dengan memadukan biochar sekam padi, kompos kotoran itik, dan bakteri pelarut fosfat yang bekerja aktif melepas ikatan zat besi serta aluminium agar unsur fosfor dapat diserap tanaman secara maksimal.

 

Langkah ini dinilai menjadi terobosan penting bagi efisiensi usaha tani, mengingat ketergantungan petani pada pupuk kimia fosfat selama ini cukup tinggi meskipun efektivitas penyerapannya di lahan rawa lebak tergolong sangat rendah.

Baca Juga  Zakiudin Menyalakan Literasi dan Numerasi di SMP IT Al Furqon Palembang

 

Program peningkatan efisiensi hara tanah ini didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Tahun Anggaran 2026, yang diaplikasikan langsung bersama Kelompok Tani Cahaya Tani di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan.

 

Hingga pertengahan program berjalan, tim peneliti dan kelompok tani telah berhasil memproduksi sekitar 1 ton pupuk Kompos-Char untuk diuji coba langsung pada lahan percontohan (demplot) tanaman padi dan hortikultura cabai.

 

Untuk memaksimalkan penyerapan hara dan produktivitas lahan, aplikasi pupuk organik khusus ini juga menyasar tanaman cabai yang dibudidayakan di area galengan sawah guna mengubah lahan marjinal yang keras menjadi lebih gembur dan subur.

 

Setelah keberhasilan peningkatan kapasitas hara tanah ini, Universitas IBA selanjutnya akan memberikan pelatihan manajemen niaga agar kelompok tani mampu memproduksi dan mendistribusikan pupuk inovatif ini secara mandiri guna mendukung kedaulatan pangan regional.

Baca Juga  Meramu Iman & Inovasi 

 

Ketua Kelompok Tani Cahaya Tani Suratman mengaku bersyukur mendapatkan pemahaman teknis mengenai tata cara peningkatan efisiensi fosfor tanah ini karena bahan baku pembuatannya sangat melimpah dan mudah diperoleh di sekitar desa.

 

“Kami tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mempraktikkan langsung proses pembuatan Kompos-Char hingga penerapannya di demplot. Ke depan kami berharap teknologi ini dapat terus diterapkan oleh anggota kelompok tani,” ujarnya.

 

Kepala Desa Sungai Pinang, Sustrieyanti, mengatakan inovasi tersebut membuka peluang baru bagi masyarakat untuk memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan yang selama ini belum memiliki nilai ekonomi.

 

“Kami menyambut baik program ini karena memanfaatkan potensi yang ada di desa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi petani. Harapannya, teknologi Kompos-Char dapat terus dikembangkan sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button