NASIONALNEWS

Jembatan Ampera Hilang?

BritaBrita.com-PALEMBANG— Ribuan warga Kota Palembang memadati kawasan Car Free Day (CFD) pada Minggu pagi, (23/8/2026), sekitar pukul 06.30 WIB. Namun suasana yang biasanya penuh keceriaan berubah menjadi tanda tanya besar. Ikon kebanggaan kota, Jembatan Ampera, seolah lenyap dari pandangan. Warga berbondong-bondong mengabadikan momen langka ini dengan kamera ponsel mereka, bertanya-tanya: “Ke mana Ampera?”

Ternyata, jembatan yang menjadi simbol persatuan Palembang itu tidak benar-benar hilang. Ia tertutup rapat oleh kabut asap tebal yang menyelimuti udara kota akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Firdaus, seorang petugas Dinas Perhubungan Kota Palembang, mengaku ikut terkejut.

“Saya langsung ambil handphone untuk memotret kerumunan warga yang CFD ke arah Ampera. Tapi jembatannya sama sekali tidak terlihat. Lima tahun lebih yang lalu juga begitu. Kabut asap, mata pedih, dan Ampera hilang. Sekarang terulang lagi. Ini belum saja mata sampai pedih,” ujarnya sambil menghela napas.

Warga lain, seperti Indah (41), seorang ibu rumah tangga warga Plaju yang rutin mengikuti CFD, mengungkapkan rasa kecewa.

Baca Juga  Musyawarah V Lembaga Adat Rumpun Melayu se-Sumatera

“Kami datang untuk olahraga, menikmati udara segar. Tapi malah disambut kabut asap. Pemerintah harusnya lebih sigap. Jangan tunggu sampai warga sakit baru bergerak,” katanya.

Warga pun merasa dampak kabut kian merugikan, meski belum pekat namun mata mereka sudah merasakan perih, bahkan anak-anak jadi batuk-batuk. “Kami khawatir kesehatan terganggu. CFD seharusnya jadi momen sehat, tapi malah jadi ancaman.”ucapnya.

Fenomena kabut asap bukan hal baru bagi masyarakat Sumatera Selatan. Setiap musim kemarau, Karhutla kerap terjadi, menimbulkan kabut pekat yang menyelimuti kota. Tahun ini, kondisi kembali terulang.Kualitas udara menurun: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kategori tidak sehat. Aktivitas warga terganggu, CFD yang biasanya menjadi ajang rekreasi berubah jadi momen penuh keluhan. Ekonomi lokal terdampak, pedagang kecil di sekitar CFD mengaku penjualan menurun karena warga enggan berlama-lama di luar.

Baca Juga  Polda Sumsel Dorong Pengawasan Gerakan Pangan Murah Lewat Media Sosial

“Warga banyak malas berolahraga. Sebelum kabut asap, ramai sekali yang CFD. Sekarang ada penurunann,” ucap pedagang makanan crepes persis di depan Kampus UKB Palembang.

Banyak warga menilai pemerintah lamban menangani Karhutla. Protes bermunculan di media sosial, menuntut tindakan cepat.

“Sudah bertahun-tahun masalahnya sama. Kenapa tidak ada solusi permanen? Jangan tunggu korban jatuh baru sibuk,” ujar Rima (31), seorang pedagang kaki lima lainnya.  Padahal, Jembatan Ampera bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah ikon Palembang, simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat. Hilangnya Ampera dari pandangan, meski hanya sementara, mengguncang psikologis warga.

“Ampera itu saksi sejarah. Kalau hilang dari pandangan, rasanya seperti Palembang kehilangan wajahnya,” kata warga.

Peristiwa “hilangnya” Jembatan Ampera pada CFD kali ini menjadi pengingat betapa seriusnya dampak kabut asap. Ia bukan sekadar fenomena alam, melainkan cermin dari masalah struktural yang belum terselesaikan: Karhutla yang berulang, penanganan yang lamban, dan kesehatan warga yang terancam. (sew)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button