NASIONALNEWS

Karhutla di Indonesia Menggila, Asap dan Emisi Parah Jadi Sorotan Dunia

BritaBrita.com, PALEMBANG-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera kini mendapat sorotan lembaga pemantau atmosfer dunia. Pemantauan satelit menunjukkan aktivitas kebakaran musiman di Indonesia meningkat, dibarengi kenaikan emisi kebakaran dan kabut asap regional.
Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), yang diimplementasikan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) untuk program observasi Bumi Uni Eropa Copernicus, merilis pemantauan terbaru mengenai kebakaran dan pergerakan asap di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

ECMWF merupakan pusat riset dan prakiraan cuaca global terkemuka. Data observasi, reanalisis, prakiraan dan model yang dikembangkannya digunakan secara luas dalam riset cuaca, atmosfer, dan iklim.

Dalam laporan terbaru CAMS, Indonesia mendapat perhatian khusus setelah aktivitas kebakaran musiman mulai meningkat sejak akhir Juli 2026. Meski kebakaran pada periode kemarau bukan fenomena baru, CAMS mencatat kebakaran tahun ini lebih kuat dibanding beberapa tahun terakhir.

Kebakaran pada awalnya terutama terkonsentrasi di Pulau Borneo, khususnya Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Baca Juga  Walikota Minta BMG di Palembang tak Boleh Ada Hambatan Lagi, 56 belum Bersertifikat Laik Higiene Sanitasi Harus Ada

Asap dan Emisi Meningkat
Copernicus tidak hanya memantau titik api. CAMS menggunakan Global Fire Assimilation System (GFAS) untuk mengamati aktivitas kebakaran dan memperkirakan emisi yang dilepaskan ke atmosfer.

GFAS memanfaatkan pengamatan satelit terhadap Fire Radiative Power (FRP) atau energi yang dilepaskan oleh kebakaran aktif. Data tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan intensitas kebakaran dan emisi dari pembakaran biomassa secara mendekati real-time.

Hasil pemantauan menunjukkan emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional Indonesia telah meningkat.

Mark Parrington, Senior Scientist ECMWF yang bekerja untuk CAMS, mengatakan perkembangan di Indonesia menunjukkan pola yang konsisten dengan musim kebakaran pada tahun-tahun El Niño sebelumnya.

“Untuk Indonesia, emisi kebakaran musiman dan kabut asap regional sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El Niño sebelumnya,” kata Parrington seperti dilansir detik.com.

Menurutnya, CAMS akan terus mengawasi perkembangan aktivitas kebakaran serta dampaknya terhadap kualitas udara dalam beberapa pekan mendatang.

Data emisi GFAS juga dimasukkan ke sistem prakiraan komposisi atmosfer ECMWF. Dengan sistem tersebut, CAMS dapat memperkirakan bagaimana asap dan polutan terbawa angin serta pengaruhnya terhadap kualitas udara hingga beberapa hari ke depan.

Baca Juga  Seminar Nasional Otonomi Daerah Hubungan Pusat dan Daerah.

Pemantauan Asap dan Emisi akibat Karhutla Kalimantan.Foto: Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS)
Temuan Copernicus sejalan dengan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan pantauan satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan serta Sumatera bagian tengah dan selatan. Sebagian asap terbawa pola angin dan meluas ke wilayah sekitarnya.

BMKG juga melaporkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua, sejalan dengan kondisi cuaca yang relatif kering.

Kondisi tersebut terjadi ketika sebagian besar Indonesia telah memasuki musim kemarau. Pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5% wilayah telah memasuki musim kemarau.

Curah hujan pada periode yang sama juga didominasi kategori rendah yang mencakup sekitar 90,79% wilayah Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button