
BritaBrita.com,PALEMBANG-Potensia Academy mengadakan webinar nasional dengan tema “Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Berbasis Outcome Based Education (OBE)” Kamis, (20/08/2026). Acara ini berlangsung secara daring melalui Zoom dan YouTube, diikuti lebih dari 700 peserta yang terdiri dari dosen, pimpinan perguruan tinggi, serta ketua program studi dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.
Webinar yang dipandu oleh moderator Hadi berlangsung selama 120 menit dan menghadirkan narasumber utama, Dr. Andi Ulfa Tenriada, M.Pd, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syah Kuala, Banda Aceh, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Sertifikasi dan Pengembangan Kinerja SDM.
Tema kali ini dipilih karena urgensi penerapan kurikulum OBE di perguruan tinggi. Regulasi terbaru, yakni Permendikti Nomor 39 Tahun 2025, menegaskan bahwa setiap program studi wajib menyusun perencanaan pembelajaran yang terstruktur, mulai dari tujuan, proses, hingga penilaian. RPS menjadi dokumen kunci yang bukan sekadar administrasi, melainkan peta jalan pembelajaran untuk memastikan mutu lulusan.
Dalam pemaparannya, Dr. Andi Ulfa menekankan bahwa RPS berbasis OBE harus dirancang dengan orientasi pada capaian pembelajaran lulusan (CPL). “RPS bukan hanya dokumen statis, tetapi alat untuk memastikan pembelajaran berjalan selaras dengan mutu lulusan yang diharapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa OBE menuntut dosen untuk merancang pembelajaran dari hasil yang diinginkan. Dengan demikian, setiap mata kuliah harus menurunkan CPL ke dalam Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), lalu menentukan metode, tugas, dan asesmen yang relevan.
Dr. Andi Ulfa memaparkan bahwa RPS memiliki fungsi strategis yakni :
- Panduan pembelajaran : Menjadi pedoman bagi dosen dan mahasiswa dalam proses belajar.
- Alat kendali mutu : Digunakan oleh unit penjaminan mutu fakultas maupun universitas.
- Dokumen akreditasi : Menjadi eviden akademik penting dalam proses akreditasi program studi.
- Instrumen evaluasi : Memudahkan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
OBE memiliki prinsip utama yang harus diterapkan dalam penyusunan RPS yakni fokus pada capaian yakni pembelajaran diarahkan pada kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa. Kemudian backward curriculum design yakni perancangan kurikulum dimulai dari hasil akhir yang diinginkan.Ada constructive alignment yakni keselarasan antara CPL, CPMK, metode pembelajaran, asesmen, dan sumber belajar. Lalu ada siklus PDCA (Plan, Do, Control, Action) yakni Perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Penyusunan CPL dan Profil Lulusan
Dalam kesempatan itu juga, Andi Ulfa juga menekankan pentingnya merumuskan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dengan melibatkan pemangku kepentingan internal (mahasiswa, dosen) dan eksternal (alumni, pengguna lulusan, asosiasi profesi). CPL harus relevan dengan kebutuhan pasar kerja 10 tahun ke depan serta mencerminkan keunikan masing-masing perguruan tinggi.
Ia menyarankan agar jumlah CPL tidak lebih dari 10 agar tidak menyulitkan pengumpulan eviden saat akreditasi. “Semakin banyak CPL, semakin banyak bukti yang harus dikumpulkan. Jadi lebih baik fokus pada kompetensi inti yang realistis dan terukur,” jelasnya. Dr Andi Ulfa memperkenalkan dua metode populer dalam merumuskan CPL, yakni : SMART – Spesifik, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. Dan ABCD – Audience, Behavior, Condition, Degree.
Kedua metode ini membantu dosen menyusun kalimat CPL yang jelas, terukur, dan realistis. Kegiatan ini bukan hanya forum berbagi ilmu, tetapi juga wadah kolaborasi antarperguruan tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Webinar ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana peserta menyampaikan berbagai pertanyaan seputar implementasi RPS OBE di program studi masing-masing. Potensia Academy berkomitmen untuk terus menghadirkan forum-forum serupa sebagai bagian dari upaya mendukung transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dosen dan pengelola program studi semakin memahami pentingnya RPS berbasis OBE sebagai instrumen strategis dalam memastikan mutu lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. (std)



