ARTIKEL

​Membedah Malpraktik – Pendidikan: Dari Beban Mental Bocah Hingga Penjara Pasar di Kampus

​Kesenjangan dan Ironi Guru

​Membedah Malpraktik  – Pendidikan: Dari Beban Mental Bocah Hingga Penjara Pasar di Kampus

​Oleh: Rosihan Arsyad ( Pemerhati Pendidikan/ Pemimpin Umum BritaBrita.com )

Setiap tanggal 2 Mei, kita rutin merayakan Hari Pendidikan Nasional sebagai simbol penghormatan terhadap filosofi Ki Hadjar Dewantara. Namun, di balik seremonial itu, tersimpan paradoks yang menyayat hati: anggaran pendidikan kita melimpah—20 persen dari APBN—namun gagal berkorelasi dengan kualitas. Kita terjebak dalam labirin angka, sementara realitas di lapangan menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita sedang kehilangan jiwanya.

​Salah Kaprah Sejak Usia Dini

Kegagalan ini bermula dari fondasi yang paling dasar. Di jenjang TK dan SD, kita menyaksikan malapraktik pedagogis yang nyata. Anak usia 3-6 tahun, yang seharusnya berada pada fase formation—pembentukan mental, budi pekerti, etiket, dan kemandirian—justru dipaksa memikul beban kognitif yang prematur. Mereka dijejali informasi teknis seolah-olah otak mereka adalah cakram keras yang harus segera diisi.

​Padahal, usia dini adalah masa untuk bermain dan bergerak. Ironisnya, saat beban kurikulum diperberat, fasilitas pendukung seperti Alat Instruksi (Alins) dan Alat Penolong Instruksi (Alongins) untuk bermain dan berolahraga justru minim atau rusak. Anak-anak kita dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya di dalam ruang kelas yang suram, sementara akses menuju sekolah pun seringkali harus bertaruh nyawa karena infrastruktur yang hancur.

​Kesenjangan dan Ironi Guru

Kesenjangan infrastruktur ini diperparah oleh disparitas kualitas dan jumlah guru. Di tengah ambisi digitalisasi, kita masih punya hutang besar pada mereka yang berdiri di baris depan: para guru honorer dan guru bantu. Sangat tidak adil menuntut kualitas pendidikan setinggi langit sementara gaji para pengajarnya masih di bawah standar hidup layak. Bagaimana mungkin kita mengharapkan pembentukan karakter yang kokoh jika para pendidiknya masih berkutat dengan urusan perut yang tak kunjung terjamin oleh negara?

Baca Juga  Sikap Tegas Republik Indonesia Terhadap Israel.

​Pendidikan Tinggi: Menolak Nalar “Mur dan Baut”

Nalar pragmatisme yang salah kaprah di tingkat dasar ini rupanya berlanjut hingga ke perguruan tinggi. Sebagaimana disoroti oleh banyak pengamat, muncul tren berbahaya di mana otoritas pendidikan tinggi berencana menutup program studi yang dianggap “tidak relevan” dengan pasar kerja. Ini adalah puncak dari demanusiawi pendidikan kita.

​Logika pasar yang merembes ke kebijakan kampus melalui jargon link and match telah mereduksi manusia menjadi sekadar komoditas. Universitas dipaksa menjadi balai latihan kerja raksasa yang tugasnya hanya mencetak “mur dan baut” bagi mesin industri. Jika parameter tunggal keberhasilan pendidikan adalah keterserapan pasar, kita sedang melakukan kesalahan kategori yang fatal.

​Pendidikan tinggi seharusnya menjadi momentum change of behaviour—transformasi perilaku dan pembangunan nalar kritis. Jika mahasiswa hanya dididik untuk mahir melakukan tugas teknis demi perusahaan asing, lalu di mana tempat bagi pembentukan karakter bangsa? Kita bukan sedang mendidik calon buruh murah; kita sedang mencerdaskan bangsa sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945.

Baca Juga  Ali Khamenei; Bukan Sekedar Nama

​Kedaulatan Intelektual adalah Ketahanan Nasional

Menghianati warisan Ki Hadjar Dewantara berarti memutus rantai ilmu pengetahuan demi keuntungan finansial instan. Mengejar “Kodrat Zaman” melalui digitalisasi dan AI memang keharusan, namun mengabaikan “Kodrat Alam” atau identitas bangsa demi selera pasar adalah sebuah kenaifan.

​Dalam perspektif strategis, bangsa yang hanya terdiri dari “mur dan baut” adalah bangsa yang rapuh. Mur dan baut bisa diganti kapan saja dengan mesin otomatis. Jika generasi muda kita hanya dididik menjadi tenaga teknis yang patuh, siapa yang akan menjadi arsitek kebijakan di masa depan? Siapa yang akan membela kedaulatan wilayah, laut, dan udara kita dengan analisis yang tajam dan berintegritas?

​Kedaulatan sebuah negara dimulai dari kedaulatan berpikir warga negaranya. Sudah saatnya kita menyosialisasikan bahwa pendidikan adalah investasi kemanusiaan, bukan beban biaya operasional. Kampus harus tetap menjadi tempat di mana mahasiswa berani berkata “salah” pada sistem yang tidak adil, bukan sekadar belajar cara bekerja 40 jam seminggu.

Dari bangku TK yang terlampau berat bebannya hingga bangku kuliah yang terancam nalar pasar, sistem pendidikan kita perlu didekonstruksi total. Pendidikan adalah soal manusia seutuhnya—tubuh, jiwa, dan nalar. Mari kita kembalikan sekolah dan kampus sebagai kawah candradimuka bagi para pemimpin, bukan pabrik sekrup kecil di mesin besar milik bangsa lain. Mencerdaskan bangsa jauh lebih mulia daripada sekadar menyediakan tenaga kerja.

​Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button