NASIONAL

Air Mata di Bawah Langit Sumatera: Banjir Rendam Banyak Daerah, Ribuan Warga Kehilangan Tempat Tinggal

Laporan: Bangun Lubis

Air Mata di Bawah Langit Sumatera: Banjir Rendam Banyak Daerah, Ribuan Warga Kehilangan Tempat Tinggal**

BritaBrita.com, MEDAN – Hujan yang tak kunjung reda kembali menorehkan duka di Pulau Sumatera. Banjir meluas merendam rumah-rumah warga, melumpuhkan aktivitas ekonomi, serta memaksa ribuan keluarga mengungsi dalam kondisi penuh keterbatasan.

Banjir dilaporkan melanda Sumatera Utara (Kota Medan, Tapanuli Tengah, Deli Serdang), Sumatera Barat (Padang, Pesisir Selatan), Sumatera Selatan (Palembang, Ogan Ilir), Jambi, Riau, hingga Aceh. Ketinggian air di sejumlah titik mencapai 50 sentimeter hingga lebih dari 1,5 meter.

Luapan sungai, drainase yang tak mampu menampung debit air, serta hujan ekstrem berhari-hari membuat banyak kawasan berubah menjadi lautan air cokelat.

Tapanuli Tengah: Rumah Terendam, Warga Mengungsi dengan Perahu

Di Tapanuli Tengah, banjir merendam ratusan rumah warga. Sebagian desa terisolasi, bahkan hanya bisa dijangkau menggunakan perahu karet.

“Air datang saat subuh. Dalam waktu singkat rumah kami sudah terendam. Kami hanya bisa menyelamatkan anak-anak,” ujar Rahman, warga Tapanuli Tengah, dengan suara bergetar.

Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi, termasuk ke masjid dan sekolah yang dijadikan posko darurat.

Kota Medan: Jalan Utama Lumpuh, Aktivitas Kota Terhenti

Baca Juga  Peserta STQH Sumsel Dinyatakan Lolos Registrasi dan Bisa Ikut Lomba

Di Kota Medan, banjir merendam permukiman padat penduduk dan sejumlah jalan protokol. Arus lalu lintas lumpuh, kendaraan mogok, dan aktivitas perdagangan terhenti.

“Air masuk ke rumah sampai hampir sepinggang. Usaha kecil kami terpaksa tutup. Barang dagangan rusak semua,” kata Yusuf, pedagang di kawasan Medan Tembung.

Sekolah-sekolah di wilayah terdampak juga terpaksa meliburkan aktivitas belajar mengajar demi keselamatan siswa.

 

Gubernur Sumut: Warga Diminta Tetap Waspada.

Gubernur Sumatera Utara dalam pernyataannya menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah mengerahkan seluruh kekuatan untuk membantu warga terdampak banjir.

“Kami telah menginstruksikan BPBD, TNI, Polri dan seluruh relawan untuk mempercepat evakuasi serta distribusi bantuan. Warga diminta tetap waspada karena curah hujan masih tinggi,” ujar Gubernur Sumut.

Ia juga menyampaikan bahwa pemprov Sumut akan segera melakukan pendataan kerusakan rumah, fasilitas umum, dan lahan pertanian yang terdampak.

Sumatera Barat: Sawah Tenggelam, Petani Menangis

Di wilayah Sumatera Barat, banjir merendam ribuan hektare sawah di wilayah Padang dan Pesisir Selatan. Banyak petani dipastikan gagal panen. Dan banjir membawa rumah juga terjadi di sejumlah daerah lainnya di Sumbar

“Padi kami baru mulai menguning, kini semuanya tenggelam. Ini hasil kerja berbulan-bulan yang hilang dalam semalam,” tutur Asril, petani di Pesisir Selatan, dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga  Nggak Harus Terbang, Haji Juga Bisa Menyebrangkan Hati Lewat Laut

BPBD: Banjir Dipicu Hujan Ekstrem dan Pendangkalan Sungai

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjelaskan bahwa banjir kali ini disebabkan oleh intensitas hujan yang sangat tinggi, ditambah kondisi sungai yang mengalami pendangkalan.

“Sebagian besar daerah terdampak berada di sekitar aliran sungai. Drainase yang terbatas mempercepat luapan air,” kata salah satu pejabat BPBD dalam keterangannya.

Bantuan Terus Disalurkan, Namun Masih Jauh dari Cukup

Dapur umum telah didirikan di berbagai lokasi pengungsian. Bantuan berupa:

  •  Makanan siap saji
  • *Air bersih
  • *Selimut dan matras
  • *Obat-obatan
  • *Peralatan bayi

terus disalurkan. Namun para relawan mengakui bahwa kebutuhan masih sangat besar.

“Pengungsi terus bertambah. Kami sangat berharap bantuan dari para dermawan dan pemerintah pusat bisa segera datang lebih banyak,” ujar salah satu relawan kemanusiaan.

Doa di Tengah Derasnya Ujian

Di tengah rumah yang terendam, sawah yang tenggelam, dan usaha kecil yang lumpuh, warga Sumatera hanya bisa menguatkan diri dengan doa. Di posko pengungsian, lantunan zikir dan tangis anak-anak bercampur menjadi satu.

Banjir ini kembali mengingatkan bahwa alam memiliki batas kesabaran, dan manusia dituntut untuk lebih bijak menjaga lingkungan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button