OPINI

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar sebagai Fondasi Dakwah Islam dan Sebab Turunnya Pertolongan Allah

 

Disusun oleh: Supli Effendi Rahim – Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang

**بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ**

Hijrah Nabi Muhammad ﷺ bersama kaum Muhajirin dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa strategis dalam sejarah Islam yang tidak hanya berdampak sosial dan politik, tetapi juga membentuk paradigma dakwah dan peradaban Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan transformasi total umat dari kondisi tertindas menuju masyarakat berdaulat yang dibangun di atas iman, ukhuwah, dan pengorbanan.

Kaum Muhajirin meninggalkan harta, keluarga, dan tanah kelahiran demi mempertahankan akidah. Di sisi lain, kaum Anshar di Madinah menyambut mereka dengan ketulusan iman yang luar biasa. Mereka menawarkan harta, tempat tinggal, bahkan pasangan hidup. Namun, langkah awal Rasulullah ﷺ dalam menyatukan dua kelompok ini bukanlah pembagian materi, melainkan pemantapan persaudaraan berbasis iman (mu’ākhāh). Inilah fondasi utama kekuatan umat Islam dan sebab turunnya pertolongan Allah.

Konsep Persaudaraan Islam dalam Perspektif Al-Qur’an

Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar merupakan manifestasi nyata dari ukhuwah Islamiyah yang bersumber dari iman, bukan kepentingan dunia. Al-Qur’an menggambarkan secara tegas keutamaan kaum Anshar yang mendahulukan saudara mereka meskipun berada dalam keterbatasan:

> **وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ** (QS. Al-Hasyr: 9)

Artinya:

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin, dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan.”

Baca Juga  Dua Tahun Genosida Di Gaza, Mereka Butuh Solusi Bukan Perjanjian Damai

Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan umat Islam lahir dari iman yang melahirkan pengorbanan, keikhlasan, dan solidaritas sosial yang tinggi.

Etos Kemandirian Kaum Muhajirin

Meskipun mendapat tawaran materi dari kaum Anshar, kaum Muhajirin menunjukkan karakter unggul berupa kemandirian dan kemuliaan jiwa. Hal ini tergambar jelas dalam peristiwa Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu ketika dipersaudarakan dengan Sa‘ad bin Rabi‘ radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:

*بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ (HR. Al-Bukhari)

Artinya:“Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Tunjukkan aku pasar.”

Pernyataan ini mencerminkan prinsip hidup kaum Muhajirin: tidak menggantungkan hidup kepada manusia, tetapi bekerja keras dengan penuh tawakal kepada Allah. Mereka bukan kaum yang lemah atau cengeng, melainkan pribadi-pribadi yang kuat secara spiritual, mandiri secara ekonomi, dan matang secara sosial.

Kesatuan Visi Dakwah: Mencari Keridaan Allah

Kaum Muhajirin dan Anshar memiliki kesamaan visi dan tujuan, yaitu meraih keridaan Allah melalui iman, hijrah, dan jihad. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menegaskan keutamaan mereka:

*الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ> (QS. At-Taubah: 20)

Artinya:“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, mereka itu lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.”

Kesamaan orientasi inilah yang menjadikan dakwah Islam kokoh, terarah, dan berkelanjutan, sehingga Allah menurunkan pertolongan-Nya dan membuka jalan tersebarnya Islam ke seluruh dunia.

Pola Dakwah Sahabat dan Relevansinya Sepanjang Zaman

Pola dakwah yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ dan dilanjutkan para sahabat adalah dakwah yang aktif, dinamis, dan transformatif. Mereka keluar di jalan Allah dengan harta dan diri, mengajak manusia kepada tauhid dan sunnah Nabi ﷺ. Dakwah tersebut dihidupkan dengan ta‘līm dan ta‘allum, memperbanyak ibadah, zikir, doa, serta khidmat kepada sesama.

Baca Juga  Indonesia: Negeri yang Kian Carut-Marut, Siapa yang Peduli pada Rakyat?

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

> (HR. Al-Bukhari)

Artinya:

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”

Prinsip ini menunjukkan bahwa dakwah merupakan tanggung jawab kolektif umat Islam yang harus dilakukan secara terus-menerus dengan hikmah dan keikhlasan.

Keberkahan Makkah dan Madinah sebagai Buah Dakwah

Keikhlasan dakwah generasi awal Islam melahirkan keberkahan yang terus dirasakan hingga kini. Makkah menjadi pusat ibadah haji dan umrah, sementara Madinah menjadi pusat kecintaan umat Islam karena keberadaan Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ*(HR. Muslim)

Artinya:

“Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu kali shalat di masjid lainnya.”

Keberkahan ini merupakan dampak langsung dari iman, pengorbanan, dan dakwah yang ikhlas.

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar merupakan model ideal pembangunan umat Islam yang berlandaskan iman, pengorbanan, dan kesamaan tujuan. Mereka membuktikan bahwa kekuatan umat tidak terletak pada harta atau jumlah semata, tetapi pada keikhlasan, kemandirian, dan kesungguhan dalam berdakwah.

Dengan meneladani pola dakwah para sahabat—berkorban dengan harta dan diri, memperbanyak dakwah, ilmu, ibadah, zikir, doa, serta khidmat—umat Islam di setiap zaman memiliki peluang besar untuk kembali meraih pertolongan Allah dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button