Cinta Setengah Biji Sawi


Oleh: Albar Sentosa Subari – Pemerhati Agama Islam
Atas permintaan anaknya, seorang laki-laki yang dikenal berhati bersih mendatangi seorang pertapa. Ia memiliki satu permohonan yang tampak sederhana, namun sejatinya sangat besar:
“Tolong perlihatkan Allah kepadaku.”
Pertapa tua itu terdiam sejenak, sambil membelai kumisnya yang telah memutih. Dengan suara tenang ia bertanya,
“Apakah engkau mengerti apa yang kau katakan?”
“Ya,” jawab laki-laki itu mantap.
Pertapa itu berkata,
“Ketahuilah, Allah tidak dapat dilihat dengan mata jasmani. Mampukah telunjukmu menembus lautan, padahal ia hanya sanggup menembus air di dalam gelas?”
Allah hanya dapat “dilihat” bila Dia sendiri membuka hijab jiwa seseorang. Dan hijab itu hanya terbuka jika seseorang benar-benar mencintai-Nya.
Laki-laki itu tunduk.
“Wahai pertapa yang saleh, mintakanlah kepada Allah agar aku diberi cinta-Nya.”
“Tunduk dan patuhlah kepada Allah,” jawab sang pertapa.
“Mintalah cinta-Nya… paling sedikit di antara yang paling sedikit.”
“Saya minta satu dirham saja dari cinta-Nya.”
“Itu terlalu rakus.”
“Kalau begitu seperempat dirham.”
“Masih banyak.” “Baik… sebesar biji sawi saja.” “Itu pun masih terlalu besar.”
Dengan suara lirih, laki-laki itu akhirnya berkata, “Setengah biji sawi sajalah.”
“Baik,” kata sang pertapa. Ia pun menengadah ke langit dan berdoa: “Ya Allah, berilah dia setengah biji sawi dari kecintaan-Mu.”
Setelah doa itu terucap, laki-laki tersebut bangkit dan pergi. Hari demi hari berlalu. Ia tak juga pulang. Keluarganya cemas dan mendatangi sang pertapa.
“Dia menghilang… tak seorang pun tahu keberadaannya.”
Dengan gelisah, sang pertapa ikut mencari. Hingga mereka bertemu beberapa penduduk yang mengatakan bahwa laki-laki itu kini telah dianggap gila dan pergi ke sebuah gunung. Mereka pun menyusul ke sana.
Di kejauhan, tampak laki-laki itu berdiri di atas batu besar, menatap langit dengan sorot mata yang tak biasa. Anaknya berteriak sambil menangis,
“Ini salahku! Akulah yang memintanya melihat Allah!”
Sang pertapa memandang anak itu dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata pelan,
“Tidakkah engkau lihat? Setengah biji sawi dari cahaya cinta Allah saja, sudah cukup menghancurkan susunan tubuh dan akal manusia…”
Lalu ia melanjutkan,
“Sungguh, inilah orang yang memperoleh setitik cinta-Nya. Ia adalah manusia paling bahagia. Namun sayangnya, mendapatkan setitik itu saja bukan perkara mudah.”
Banyak orang berkata, “Aku mencintai Allah,” namun kebanyakan hanya di bibir.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Barang siapa mengaku mencintai Allah, namun masih mengeluhkan takdir dan bencana yang menimpanya, maka dia adalah pendusta.”
Rabi’ah Al-Adawiyah berkata:
> “Engkau durhaka kepada Allah, namun mengaku mencintai-Nya. Jika cintamu benar, niscaya engkau akan taat kepada-Nya. Sebab orang yang mencintai, akan selalu taat kepada yang dicintainya.”
Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”(QS. Ali ‘Imran: 31).
Sahabat,
cinta kepada Allah bukan sekadar pengakuan, melainkan ketaatan, kesabaran, dan kerelaan menjalani segala ketentuan-Nya.
Mari kita buktikan cinta itu — meski hanya sebesar setengah biji sawi.




