Oleh: Dheanda Putria (NPM: 2401110027)
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
DOLAR AS kembali menunjukkan taringnya. Hari ini, mata uang ‘Paman Sam’ tersebut resmi menyentuh angka Rp18.024, melonjak tajam dari posisi Rp16.250 hanya dalam hitungan minggu. Namun, fenomena yang paling menarik kali ini bukan lagi soal angka di papan kurs, melainkan sesuatu yang tidak terlihat reaksi publik yang semakin tenang atau jangan jangan, semakin acuh.
Tidak seperti beberapa tahun lalu, ketika lonjakan dolar langsung memicu kepanikan massal di media sosial, perdebatan sengit di warung kopi, hingga riuh di grup WhatsApp keluarga. Kali ini, respons publik terasa jauh lebih sunyi. Seolah-olah, keperkasaan dolar bukan lagi urusan yang perlu ambil pusing.
Pertanyaannya kemudian apakah ketenangan ini adalah tanda bahwa masyarakat kita sudah lebih dewasa secara ekonomi, atau kita justru sudah terlalu sering “digebuki” ketidakpastian hingga menjadi mati rasa?
Ada optimisme yang menyebut bahwa perubahan sikap ini adalah bentuk kedewasaan. Akses informasi ekonomi hari ini jauh lebih terbuka. Melalui media sosial dan konten edukasi finansial, masyarakat mulai paham bahwa nilai tukar mata uang bergerak dinamis mengikuti sentimen global, seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang ketat atau ketegangan geopolitik dunia.
Dalam konteks ini, ketenangan publik bisa dibaca sebagai bentuk literasi yang meningkat. Kita tidak lagi mudah sumbu pendek atau panik terhadap fluktuasi yang memang bersifat alami.
Namun, ada sisi gelap yang tidak boleh diabaikan. Ketenangan juga bisa lahir dari information fatigue (kelelahan informasi). Ketika sebuah isu buruk muncul berulang-ulang tanpa ada solusi konkret yang dirasakan langsung, psikologi massa akan bergeser menjadi apatis.
Dolar naik lagi? Ah, sudah biasa.
Harga barang merangkak naik? Anggap saja wajar.
Dampaknya ke dompet rakyat kecil? Ah, itu urusan pemerintah.
Masalahnya, hukum ekonomi tidak pernah berhenti bekerja hanya karena kita memilih untuk berhenti peduli.
Kenaikan dolar pada dasarnya tidak berdiri sendiri. la mencerminkan struktur ekonomi yang masih memiliki ketergantungan pada impor, baik bahan pangan, energi, maupun bahan baku industri.
Akibatnya, penguatan dolar tidak berhenti di pasar valuta asing, tetapi perlahan masuk ke harga-harga yang kita konsumsi sehari-hari dari gandum untuk roti, sampai komponen kecil di dalam ponsel yang kita genggam setiap hari. Namun karena dampaknya tidak selalu langsung terlihat, banyak orang baru menyadarinya ketika beban ekonomi sudah terasa di ujung bulan.
Mengapa masyarakat tidak langsung panik? Karena produsen sering kali menggunakan strategi shrinkflation harga barang tetap sama, namun ukuran atau volumenya dikurangi secara diam-diam. Akibatnya, banyak orang baru menyadari daya belinya berkurang saat tabungan mereka menipis di ujung bulan. Data menunjukkan bahwa porsi tabungan masyarakat kelas menengah bawah terus tergerus demi memenuhi kebutuhan pokok yang harganya diam-diam merangkak naik.
Dalam psikologi sosial, tidak bereaksi bukan berarti kondisi sedang baik-baik saja. Ketika sebuah krisis dianggap sebagai “normal baru” (new normal), di situlah bahaya laten mengintai. Kita berhenti panik? Mungkin itu sebuah kemajuan. Tetapi ketika kita berhenti peduli, itu adalah tanda silent crisis (krisis dalam senyap) sedang terjadi.
Saat masyarakat acuh, fungsi kontrol publik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah menjadi melemah. Kita menjadi abai terhadap urgensi hilirisasi industri, perbaikan sistem logistik nasional, hingga strategi penguatan cadangan devisa.
Daripada sekadar meratapi atau mengabaikan naik-turunnya nilai tukar, ada tiga hal krusial yang harus kita benahi bersama. Masyarakat perlu diajak melihat melampaui angka kurs. Pahami bagaimana kebijakan fiskal dan moneter saling memengaruhi, agar kita tidak mudah terjebak oleh narasi politik yang menyesatkan.
Bukan sekadar jargon, beralih ke produk lokal yang memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi adalah benteng pertahanan terbaik untuk mengurangi ketergantungan pada barang impor berbahan baku dolar. Baik pelaku usaha mikro maupun konsumen rumah tangga harus mulai cerdas mengelola arus kas dan memiliki dana darurat yang adaptif terhadap inflasi.
Pada akhirnya, dolar akan selalu bergerak fluktuatif mengikuti dinamika global yang berada di luar kendali kita. Itu adalah realitas pasar yang tidak bisa dihindari.
Namun, yang menentukan seberapa dalam dampak guncangan tersebut bukan hanya pergerakan angka di papan valuta asing, melainkan bagaimana cara kita meresponsnya.
Sebab, musuh terbesar ekonomi kita hari ini bukanlah dolar yang perkasa, melainkan masyarakatnya yang mulai mati rasa. Yang paling berbahaya bukan saat dolar naik… tetapi saat kita tidak lagi peduli mengapa ia naik. *



