EKONOMI

Stabil Tapi Masih Membebani: Rakyat Menunggu ‘Negara yang Berpihak’

Oleh: Bangun Lubis | Wartawan

BritaBrita.com – Ekonomi Indonesia hari ini, kalau dilihat dari angka makro, tampak cukup kuat. Tapi di balik itu, rakyat kecil mulai merasa goyah.

Pertumbuhan ekonomi memang masih bertahan di angka 4,8–5%. Inflasi juga terkendali. Namun, coba tanya ke petani di Lahat Sumsel,  pedagang kaki lima di Pasar Senen, atau buruh pabrik di Karawang — apakah mereka merasakan “stabilitas” itu?

Jawaban mereka bisa jadi menggelitik nurani kita:
“Yang naik cuma harga. Bukan pendapatan.”

Pertumbuhan Tapi Tak Berjalan

Saat pemerintah bangga memamerkan stimulus dan kebijakan defisit terkendali, publik justru menanggung beban:

  • Konsumsi rumah tangga melambat,
  • Anggaran daerah dipotong,
  • Proyek rakyat mandek,
  • Sementara korupsi malah merajalela.

Apakah ini wajah negara yang berpihak pada rakyat?

Baca Juga  Indonesia Bubar atau Indonesia Emas

Politik Tanpa Kepastian Arah

Di saat ekonomi menurun, kabinet justru membesar. Bukan hanya besar secara jumlah, tapi juga penuh dengan tarik-menarik kepentingan.

RUU yang kontroversial seperti RUU TNI justru makin menguatkan kekhawatiran akan kembalinya militerisme di ruang sipil.

Dan skandal korupsi raksasa seperti kasus Pertamina, bukannya selesai, malah seperti tak terdengar kelanjutannya. Padahal nilainya mencapai Rp968 triliun — jumlah yang bisa membiayai sekolah dan rumah sakit gratis di seluruh pelosok selama bertahun-tahun.

Rakyat Masih Sabar, Tapi Tidak Selamanya Diam

Masyarakat Indonesia terkenal kuat dan tabah. Tapi ketabahan bukan untuk dimanfaatkan. Rakyat menanti keadilan: bukan hanya keadilan hukum, tapi keadilan kebijakan.

Kebijakan yang tidak memotong anggaran desa, tapi memotong privilese elite. Yang tidak menyubsidi BUMN yang rugi karena korupsi, tapi menopang ibu rumah tangga yang tak bisa beli beras mahal.

Baca Juga  Jambi yang Terlupakan: Menengok Potensi Alam dan Harapan yang Tersimpan

Refleksi dan Ajakan

Kita tak anti pembangunan. Kita hanya ingin pembangunan yang berpihak pada kehidupan, bukan sekadar angka.
Kita tak anti kekuasaan. Kita hanya menagih kekuasaan yang benar-benar menjaga amanah rakyat.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu menetapkan hukum dengan adil.”
(QS An-Nisa: 58)

Negara yang kuat bukanlah yang punya pertumbuhan tinggi dan kabinet besar. Negara yang kuat adalah yang disukai oleh rakyatnya karena adil, bukan karena ditakuti dengan angka atau dipoles oleh narasi kosong.

Mari kita renungkan, dan semoga para pengambil kebijakan juga ikut mendengarkan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button