Gong Pencarian Kebenaran dan Keadilan Dibunyikan: Delapan Tersangka Kasus Ijazah Joko Widodo

Gong Pencarian Kebenaran dan Keadilan Dibunyikan: Delapan Tersangka Kasus Ijazah Joko Widodo
BritaBrita.com Jakarta, 15 November 2025 – Pagi ini, suara gong bagi pencarian kebenaran dan keadilan resmi ditabuh dalam kasus dugaan dokumen ijazah milik mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo. Penyidik Polda Metro Jaya telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka, dibagi dalam dua klaster. ([detiknews][1])
Di klaster dua, nama-nama yang mencuat adalah:
- Roy Suryo (mantan Menpora)
- Rismon Hasiholan Sianipar (ahli digital forensik)
- Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa (aktivis). ([detiknews][1])
Ketiganya memenuhi panggilan penyidik di Polda Metro Jaya pada Kamis, 13 November 2025. Roy Suryo tiba bersama kuasa hukumnya pukul 10:16 WIB dan menyatakan telah membawa bukti-bukti untuk pemeriksaan. ([detiknews][2])
Penyidik mengungkap bahwa klaster pertama berisi lima tersangka (ES, KTR, MRF, RE, DHL) yang dikenai pasal mengenai pencemaran nama baik, keterangan palsu dan Undang-Undang ITE. Sementara di klaster kedua – tempat Roy Suryo dkk berada – dikenakan pasal yang lebih berat: antara lain Pasal 310 dan/atau Pasal 311 KUHP dan pasal terkait Undang-Undang ITE. ([detiknews][1])
Meskipun ancaman pidana termasuk kategori lima tahun ke atas, penyidik memutuskan untuk tidak menahan Roy Suryo, Rismon dan Dokter Tifa. Alasan resmi: mereka mengajukan saksi dan ahli yang meringankan, serta penyidik perlu menjaga keseimbangan agar proses penegakan hukum berjalan secara profesional dan adil. ([Sindonews Nasional][3])
Kasus ini bermula dari dugaan bahwa ijazah atas nama Joko Widodo yang diterbitkan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1985 adalah palsu atau tidak sah. Kontroversi sempat mereda namun bergulir kembali sejak tahun-2022 dengan berbagai pihak mempertanyakan keaslian dokumen tersebut. ([Wikipedia][4])
Dewan Pakar Bakti Persada Masyarakat Sumatera Selatan melalui DR.Albar Sentosa Subari MH, menyatakan: “Gong untuk mencari kebenaran dan keadilan sudah ditabuh… tinggal kita sebagai warga negara Indonesia menanti hasil akhir siapa yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai pihak bertanggung jawab.”
Lebih jauh, ia juga menekankan harapannya agar para penegak hukum yang menangani kasus ini menjadi insan profesi yang proporsional, profesional, dan independen, bekerja atas nama keadilan yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.
Catatan Penting
Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, hingga berita ini ditulis belum ada penahanan untuk klaster dua.
Kasus ini menuai komentar dari kalangan akademisi dan praktisi hukum, yang menyebut bahwa hanya hakimlah yang berwenang menilai sebuah akta (termasuk ijazah) sah atau tidak.
Proses lanjutan termasuk pemeriksaan bukti asli ijazah dan potensi persidangan masih menjadi titik fokus publik.
Langkah penetapan tersangka ini membuka babak baru dalam perjalanan panjang kontroversi ijazah Jokowi. Bagi kita sebagai warga negara yang peduli, momentum ini bukan sekadar menyaksikan proses hukum, tetapi juga momen refleksi atas prinsip keadilan, transparansi, dan akuntabilitas dalam negeri. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan keberkahan dan melanggengkan kesehatan kita semua. Amin.
- [1]: https://news.detik.com/berita/d-8208370/roy-suryo-dkk-hadiri-pemeriksaan-kasus-tudingan-ijazah-palsu-jokowi-di-polda-metro?utm_source=chatgpt.com “Roy Suryo Dkk Hadiri Pemeriksaan Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi di Polda Metro”
- [2]: https://news.detik.com/berita/d-8208370/roy-suryo-dkk-diperiksa-polda-metro-sebagai-tersangka-kasus-ijazah-jokowi?utm_source=chatgpt.com “Roy Suryo dkk Diperiksa Polda Metro Sebagai Tersangka …”
- [3]: https://nasional.sindonews.com/read/1643879/13/ini-alasan-polda-metro-jaya-tak-menahan-roy-suryo-cs-terkait-kasus-ijazah-jokowi-1763035881?utm_source=chatgpt.com “Ini Alasan Polda Metro Jaya Tak Menahan Roy Suryo Cs Terkait Kasus Ijazah Jokowi”
- [4]: https://en.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo_university_diploma_controversy?utm_source=chatgpt.com “Joko Widodo university diploma controversy”



